3 Bulan sudah waktu berlalu
Siapakah ‘kita’ yang hadir di sini? Berada dalam ruang, waktu dan gerak yang tak sama tapi berpikir ke arah yang sama? Mengapa kita bisa seperti itu? Apakah karena kita berasal dari satu daerah yang sama ataukah karena kita tak mau dianggap bodoh jika hanya diam dan mengangguk kuat-kuat begitu satu ide dilontarkan: takut dianggap tak gaul alias tak berwawasan. Seperti itukah kita? Tentu saja tidak! Kita duduk di tempat berlainan, mengorbankan waktu dan sejuta kegiatan untuk memelototi layar komputer, menekan tuts demi tuts, merajut ide dan merangkai kata untuk saling berbagi - demi apakah semua itu? Apa yang ingin kita capai dengan semua pengorbanan itu?
Tiba-tiba banyak ide mengalir, banyak pemikiran bergulir dan hari-hari bergerak liar dalam diskusi demi diskusi tanpa tepi. Akan ke mana semua bermuara? Akan ke mana semua kata berlabuh dan akan ke mana kita palingkan wajah ketika letih singgah tak tertahan? Sebagian kata bergulir dalam nada-nada nostalgia, sebagian terajut dalam warna amarah dan dendam, pun tak kurang yang melayarkan kata-kata dalam ketakberdayaan akan sebuah kemenerimaan: satu-satunya yang bisa dilakukan. Tapi yang paling menggembirakan adalah masih banyak yang mendayung perahu impian. Mendayung perahu impian dalam imajinasi tentang sebuah pulau kecil yang disebut ‘small dot in the map’ dalam wacana konstruktif: indahnya andai small dot itu berubah menjadi red dot (meminjam istilah sutrisno saidi). Titik kecil berwarna merah: walau kecil tetap mampu untuk ikut bergerak dalam dinamika dunia yang tak ramah. Bukan pulaunya yang dituju tapi penghuninya. Apakah itu fokus dari semua bicara yang selalu bergema?
Tulisan ini hanyalah senarai dari sekian banyak pemikiran yang bergulir dalam beberapa bulan belakangan sejak website dan mailgroup bergulir di di tengah kehidupan rutin kita. Sebuah gairah dari dunia maya. Pembicaraan di ruang maya, yang coba untuk diwujudkan dalam realitas tak semu. Meskipun banyak sekali keterbatasan yang saya miliki, izinkan saya untuk ikut dalam revolusi pemikiran dan pembangunan ide-ide yang realistis.
Kita memang hidup dalam dunia kata-kata. Walaupun semua ini hanyalah sebuah gagasan naif, ada kata-kata bijak yang tak bisa mudah diabaikan: pikiran yang diungkapkan selalu lebih mudah untuk didiskusikan dan dicari solusinya. Dari situlah saya mulai berkata-kata meski hanya sebutir debu diantara gagasan besar rekan-rekan semua. Langkah besar tak pernah tercipta tanpa langkah-langkah kecil bukan?
Hari ini tepat 3 bulan waktu sudah berlalu, 3 bul;an yang lalu ku meninggalkan kota dabo singkeo,kota dimana ku mengenal makna hidup sesungguhnya, disana ku menemukan dan melihta semua yang tidak pernah kualami sebelumnya,disan amengenal kemandirian yang sesungguhnya walau sebelumnya ku sudah cukup mandiri dengan perantauan-perantuan sebelumnya,Dabo sungguh aneh dan unik sebuah kota atau pulau yang berada
ditengah lautan lepas,kota sejuta kenangan,disana kumenemukan rekan kerja terbaik,sebuah tim yang solid,disana ku menjadi anak buah kesayangan bos,disana kusegala-galanya,.he,,he.. pengen nantinya ditempat kerja yang baru ini seperti di Dabo. Dengan segala kehebohannnya, waktu 1 tahun 3 bulan cukup lama bagiku,butuh pengortbanan dan perjuangan yang cukup keras untuk dapat pindah kembali ke riau daratan.
Dan 3 bulan pula sudah waktu berlalu ku berada di Kota kelahiran pekanbaru tercinta,tidak ada yang berubah diantara pekanbaru dan dabo Singkep, pekanbaru-pangkalan kerinci adalah rutinitas yang hampir tiap harinya kulalui. Tahun dah berganti,apalagi bulan,tahun ini usia 26 akan menanti diriku, umur akan berkurang,tapi kematangan berpikir dan kedewasaan juga belum bertambah.
Bagaimana ya ? konsentrasi kepada pekerjaan dulu ya.
Mari kita satukan visi untuk menjadikan hari ini hari terbaik dalam sejarah hidup kita. Hari ini, kita tak perlu menunggu waktu-waktu yang tak pasti. Terima kasih untuk semua debat yang menyenangkan walaupun saya hanya baru bisa membacanya. Baru berada pada titik nol. Bravo untuk gagasan-gagasan para senior yang bahkan wajahnya tak saya ingat tapi sekali lagi: nama akan selalu dikenang walaupun tak pernah kenal orangnya. Karena itu nama menjadi sepenting udara!